SALAHKAH GUS FUAD PLERED MENYEBUT HABIB IDRUS BIN SALIM AL-JUFRI DENGAN SEBUTAN “MONYET”?
Beberapa hari terakhir, Gus Fuad Plered menjadi sorotan dan bahan perundungan publik, khususnya dari kalangan kabaib (sebutan untuk sebagian habib) dan para pengikut fanatiknya. Hal ini disebabkan pernyataannya yang menyebut Habib Idrus bin Salim Al-Jufri (tokoh yang kini sedang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional) dengan sebutan “monyet”.
Dalam klarifikasinya, Gus Fuad menjelaskan bahwa istilah “monyet” itu tidak asal ucap, melainkan bersumber dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 65, yang berbunyi:
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ ٱلَّذِينَ ٱعْتَدَوْا۟ مِنكُمْ فِى ٱلسَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ
“Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina.'”
Namun, para kabaib dan pengikutnya tetap menolak mentah-mentah penjelasan tersebut. Bahkan seorang tokoh berinisial RS sampai menantang Gus Fuad untuk berperang.
Apa Korelasi Ayat Ini dengan Idrus Al-Jufri dan Klan Ba’alwi?
Mari kita cermati bersama. Ayat tersebut membicarakan kaum Yahudi yang melanggar janji mereka kepada Allah SWT, salah satunya janji untuk mengagungkan hari Sabtu. Karena mereka berulang kali ingkar, maka Allah mengutuk mereka menjadi kera yang hina.
Pertanyaannya: Kaum Yahudi seperti apa yang dimaksud dalam ayat ini?
Apakah itu Yahudi keturunan Yehuda bin Nabi Ya’qub, yang merupakan trah Nabi Ibrahim AS? Atau justru Yahudi dari kalangan Ashkenazi, yang muncul jauh belakangan di Eropa?
Mengenal Yahudi Ashkenazi
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Harvard Medical School, Yahudi Ashkenazi merupakan kelompok Yahudi besar yang tinggal di Eropa Tengah dan Timur. Sekitar setengah populasi Yahudi dunia hari ini mengidentifikasi diri mereka sebagai keturunan Ashkenazi.
Komunitas ini mulai muncul sejak sekitar tahun 300 Masehi di wilayah Kekaisaran Romawi, khususnya di kota-kota Jerman seperti Worms, Mainz, dan Speyer. Mereka berkembang selama abad pertengahan dan membentuk identitas etnik tersendiri yang berbeda dari Yahudi Timur Tengah.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Klan Ba’alwi?
Menurut hasil penelitian KH Ja’far Shodiq Madura, murid dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, ditemukan fakta bahwa Ubaidillah (tokoh awal yang diklaim sebagai pendiri Klan Ba’alwi) bukanlah putra Ahmad bin Isa, melainkan keturunan dari Ahmad al-Habib atau Maimun al-Qodah, pendiri Dinasti Fatimiyah.
Ahmad al-Habib/Maimun al-Qodah sendiri diyakini sebagai keturunan dari Ubaidillah bin Syiak, sosok yang terlibat dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Dan menurut sejumlah catatan klasik, Ubaidillah bin Syiak bukanlah keturunan biologis dari Syiak, melainkan hasil hubungan gelap dengan seorang perempuan Yahudi Ashkenazi.
Kesimpulan dari Analisa Ini:
1. Klan Ba’alwi menurut beberapa literatur dan penelitian, tidak berasal dari trah Nabi Ibrahim, tetapi dari trah Yahudi Ashkenazi.
2. Kaum Yahudi yang dikutuk menjadi kera dalam Al-Baqarah 65, menurut pendekatan historis dan arkeologis, bukanlah Yahudi dari trah Nabi Ibrahim, melainkan Ashkenazi, yang hidup setelah zaman para Nabi.
3. Maka, jika benar Klan Ba’alwi berasal dari Yahudi Ashkenazi, maka pernyataan Gus Fuad Plered yang menyebut Idrus bin Salim Al-Jufri sebagai “monyet” memiliki landasan logis dan teologis sesuai Al-Qur’an.
4. Namun, jika Klan Ba’alwi mampu membuktikan dengan data, referensi pustaka, bukti sejarah, dan hasil uji genetika Y-DNA, bahwa nasab mereka benar-benar tersambung ke Nabi Ibrahim atau bahkan ke Nabi Muhammad SAW, maka pernyataan Gus Fuad jelas SALAH BESAR, dan saya pribadi akan ikut mengutuk ucapannya.
Sebagai penutup, saya mengajak siapa pun yang memiliki argumen atau sudut pandang berbeda untuk berdiskusi dengan sehat dan saling menghormati. Perbedaan analisa adalah hal wajar dalam pencarian kebenaran.
REFERENSI: Mengenal Yahudi Ashkenazi: Penelitian dan Literasi
Berdasarkan penelitian genetika yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan, Yahudi Ashkenazi adalah kelompok etnis Yahudi yang memiliki asal-usul campuran, bukan murni keturunan Yahudi dari Timur Tengah.
Beberapa sumber penting terkait asal-usul Yahudi Ashkenazi antara lain:
- Dr. Eran Elhaik, seorang ahli genetika dari Johns Hopkins University dan University of Sheffield, dalam penelitiannya berjudul:
“The Missing Link of Jewish European Ancestry: Contrasting the Rhineland and the Khazarian Hypotheses” (2012)
Ia menyimpulkan bahwa mayoritas Yahudi Ashkenazi tidak berasal dari Palestina kuno, melainkan merupakan keturunan bangsa Khazaria yang memeluk agama Yahudi pada abad ke-8. Bangsa Khazaria sendiri merupakan kelompok Turko-Slavia di wilayah Kaukasus dan Eropa Timur.
DOI: 10.1093/genetics/ews088 - Dalam studi yang dipublikasikan di Nature Communications (2014) oleh tim ilmuwan dari Albert Einstein College of Medicine, disebutkan bahwa Yahudi Ashkenazi menunjukkan adanya gen campuran dari Eropa Selatan dan Timur Tengah, yang menandakan adanya proses percampuran genetik setelah diaspora.
Sumber:
“The genome-wide structure of the Jewish people” – Nature Communications, 2014.
DOI: 10.1038/ncomms5835 - Peneliti lain seperti Harry Ostrer, profesor genetika dari NYU School of Medicine, dalam bukunya “Legacy: A Genetic History of the Jewish People” (2012), juga menjelaskan bahwa identitas Yahudi Ashkenazi adalah hasil dari proses migrasi dan kawin campur selama berabad-abad di Eropa.
Dengan merujuk pada literatur dan penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa:
- Yahudi Ashkenazi bukanlah kelompok Yahudi “murni” dari Timur Tengah, apalagi dari trah para Nabi seperti Ibrahim, Ishaq, atau Ya’qub.
- Mereka berasal dari proses konversi dan pencampuran rasial, khususnya dengan bangsa Khazar, Romawi Timur, dan Eropa Timur.