Pati Unus
Sang Pangeran kesepian di Tengah ganasnya samudera. Tak banyak kisah yang menuliskan tentang sang Pangeran Sabrang Lor Laksamana yang perwira lagi gagah berani, dengan lantang (mungkin) berkata Jalasveva Jayamahe.
Armada Portugis, sang raja di raja dilaut telah mengalami ganasnya semburan Cetbang Majapahit. Dari kapal kapal Jung perkasa pasukan Jepara milik Pati Unus.
Tome Pires seorang penjelajah asal Portugis, menulis dalam jurnal perjalannya selama berkeliling Nuswantara. Pati Unus berusia 25 tahun, memerintahkan ekspedisi untuk menaklukan Kerajaan Malaka di tahun 1513. Dan saat itu Malaka telah dikuasai Portugis. Sejatinya sang Laksamana melawan Portugis penguasa separuh dunia.
Pires melukiskan betapa armada laut yang dipimpin Pati Unus, adalah Angkatan laut yang sangat luar biasa. Jung atau kapal layar Jawa digambarkan sebagai kapal Induk yang mampu mengangkut 1000 pelaut, Portugis pun konon tak menyangka bangsa yang dianggap Barbar memiliki teknologi Maritim yang mumpuni di jaman itu.
Pada tahun 1521, Pati Unus memimpin penyerbuan kedua ke Malaka melawan pendudukan Portugis. Sebuah misi ekspedisi yang sangat hebat dan mahal untuk keperluan perang, jika hanya di nilai hanya sebagai Langkah Geopolitik untuk sekedar factor ekonomis dan perdagangan semata. Ekspedisi ke dua barangkali adalah sebuah ekpedisi “Perang Salib” untuk melawan hegemoni Portugis di wilayah Nuswantara dalam perang melawan politik Gold,Glory,Gospel dari para Europe Man.
Ekspedis Ke Dua Malaka yang dipimpin langsung Sang Laksamana Pati Unus. Digambarkan adalah seolah rakyat Jawa pindah ke atas Jung dan menyerbu Malaka dengan seluruh jiwa raga.
Yang tersisa di Jawa hanyalah mereka yang menolak Ekspedisi ke Dua karena alasan klasik Pragmatis dan Oputunis khas kaum yang hanya memikirkan cuan dan cuan semata. Mereka yang hanya memikirkan keuntungan peribadi. Perang terhadap Portugis hanya membuang buang waktu dan sumber daya yang ada. Mereka lebih suka kita berbaik baik saja, suceng kepada bangsa Portugis, bisnis lancar, cuan ngalir, sampai bikin tajir melintir.
Hubungan Pati Unus dan Trenggana, disinyalir tidak harmonis, saling silang kedua pendukung mereka saling berseteru, mengkampanyekan pilihan politik mereka. Dan hal-hal serupa terus bergulir hingga akhir jaman, perseteruan opurtunis dan para perwira bhumi pertiwi.
Ekpedisi ke Dua Pati Unus, membuka mata dunia menyadarkan seorang Unus yang Gagah Pertiwira, dengan kebesaran jiwa dan pengorbanan seluruh jiwa raga, harta, tahta dan wanita miliknya atas nama Negerinya dan keyakinanya. Menentang ombak dan angin samudera menuju Malaka mengempur Portugis, dimana Portugis telah menyiapkan jebakan untuk sang Laksamana.
Tanpa disadari Adipati Unus sang Pangeran Sabrang Lor, Sultan ke dua Demak, meremas dadanya menahan sakit yang teramat sakit. Sakit akibat racun yang telah menyesap dadanya. Dadanya yang seluas samudera ternyata tak mampu menampung ,setetes demi tetes racun hitam kebencian rasa iri dengki.
Sang Laksamana, tengelam, tersuruk, dikeheningan cipta, samudera tanpa batas antara dia dan penciptaNya…
Al Fatehah..…🤲🤲🤲
Selat Malaka 1521
KISAH PANGERAN PATI UNUS (Pangeran Sabrang Lor, Sultan ke dua Demak)
ownerMar 05, 2024ARTIKEL ILMIAH0
Previous PostDosa-Dosa Ubaidillah
Next PostSyaikh Nawawi Al Bantani, Maksud Beliau adalah : "SAYYID merupakan DZURRIYAH RASULULULLAH SAW" (Kajian Kitab Uqudul Lujjain hal: 5)
Related articles
Ketika “Pakar Geneologi dan DNA” ala Klan Ba’alwi Ngomong, Ilmu pengetahuan dan Logika Jadi Korban!
ownerDes 12, 2024