Kitab Al-Syajarah al-Mubârakah: Bukti Keaslian Kitab dan Kesalahpahaman  para pengkritiknya

*”Kitab Al-Syajarah al-Mubârakah: Bukti Keaslian Kitab dan Kesalahpahaman  para pengkritiknya”*

Dalam buku Keabsahan Nasab Ba’alawi (yang diterbitkan oleh klan ba’alwi), terdapat upaya untuk menafikan bahwa Al-Syajarah al-Mubârakah adalah karya Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H). Dalam halaman 240 buku tersebut, penulis menyatakan bahwa kitab ini tidak hanya bermasalah dalam hal substansi, tetapi juga dalam hal penisbahan kepada al-Razi.

 

Namun, kritik ini tampak tidak berdasar dan justru menunjukkan ketidak-konsistenan dalam standar ilmiah yang digunakan. Berikut adalah bantahan terhadap klaim tersebut.

 

*1. Kejanggalan dalam Upaya Menafikan Kitab Al-Syajarah al-Mubârakah*

Penulis buku Keabsahan Nasab Ba’alawi (yang diterbitkan oleh klan ba’alwi) mengandalkan beberapa argumen untuk menolak penisbahan kitab ini kepada Imam Fakhruddin al-Razi, di antaranya:

 

*a. Kesalahan Identifikasi Manuskrip*

Disebutkan bahwa salah satu manuskrip Al-Syajarah al-Mubârakah yang ditemukan oleh Ayatullah al-Mar’asyi di Perpustakaan Masjid Sultan Ahmed III, Istanbul, ternyata adalah Bahr al-Ansâb (katalog 2688). Berdasarkan hal ini, mereka menyimpulkan bahwa kitab Al-Syajarah al-Mubârakah tidak memiliki dasar yang kuat sebagai karya Imam al-Razi.

 

Namun, kesimpulan ini keliru karena kitab Bahr al-Ansâb dan Al-Syajarah al-Mubârakah adalah dua entitas yang berbeda dengan lokasi penyimpanan yang juga berbeda. Kesalahan identifikasi satu manuskrip tidak serta-merta membatalkan keberadaan kitab lainnya.

 

*b. Pernyataan Mahdi al-Raja’i*

Sebagai pentahqiq, Mahdi al-Raja’i menyebutkan bahwa manuskrip yang ditemukan di Perpustakaan Sultan Ahmed Tsalis dengan nomor katalog 2677 sebenarnya adalah Bahr al-Ansâb, bukan Al-Syajarah al-Mubârakah. Selain itu, status kitab ini masih “yunsabu” (dinisbahkan), yang menunjukkan bahwa verifikasi lebih lanjut diperlukan.

Namun, dalam mukadimah Al-Syajarah al-Mubârakah sendiri (hal. 12), disebutkan dengan jelas:

> “Ini adalah kitab yang diberi nama As-Syajarah al-Mubârakah… Ditulis dari salinan naskah yang telah ditashih oleh Imam al-Razi sendiri, bahkan beliau menulis pada bagian depan dengan tulisan tangannya sendiri…”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa ada naskah yang telah ditashih langsung oleh Imam al-Razi, yang memperkuat keabsahan kitab ini sebagai karya beliau.

 

*c. Perbedaan Jarak Waktu*

Dikatakan bahwa manuskrip yang ditemukan merupakan salinan yang baru ditulis pada tahun 820 H, lebih dari 200 tahun setelah wafatnya Imam al-Razi. Dengan demikian, mereka berargumen bahwa tidak ada bukti yang cukup kuat yang menunjukkan keberadaan kitab ini pada masa al-Razi.

Namun, argumentasi ini lemah karena dalam dunia manuskrip, banyak karya ulama klasik yang hanya ditemukan dalam salinan yang lebih muda. Apalagi, isi kitab ini ternyata sesuai dengan sumber dari abad ke-5 H, yaitu dalam kitab Muntaqilut Thalibiyah karya Ibnu Thoba-Thoba (hlm. 160). Kitab ini juga menjelaskan tentang jumlah putra Ahmad bin Isa dengan menggunakan format syighot hasr (redaksi pembatasan), yang konsisten dengan isi Al-Syajarah al-Mubârakah.

 

*2. Standar Ganda dalam Menilai Keabsahan Kitab*

Yang mengherankan, pihak yang meragukan keabsahan Al-Syajarah al-Mubârakah tampaknya menerapkan standar ganda. Jika suatu pendapat mendukung klaim mereka, maka diterima tanpa kritik. Namun, jika pendapat tersebut merugikan klaim mereka, maka kredibilitasnya langsung diragukan.

 

Padahal, jika konsisten dengan metode berpikir ilmiah, mereka seharusnya mempertimbangkan bukti-bukti yang menguatkan kitab ini sebagai karya Imam al-Razi, seperti:

*1. Pentahqiq kitab ini telah menunjukkan bahwa manuskrip Al-Syajarah al-Mubârakah memang ada, lengkap dengan lokasi penyimpanan dan nomor katalog.*

*2. Kitab Bahr al-Ansâb dan Al-Syajarah al-Mubârakah memiliki pengarang yang jelas dan lokasi penyimpanan yang berbeda, membuktikan bahwa keduanya bukan kitab yang sama.*

*3. Banyak kitab nasab yang baru teridentifikasi setelah penelitian mendalam, dan hal ini merupakan hal yang umum dalam ilmu manuskrip.*

*4. Isi kitab Al-Syajarah al-Mubârakah ternyata memiliki kesesuaian dengan sumber-sumber klasik lainnya, memperkuat validitasnya.*

 

*Kesimpulan*

Berdasarkan fakta-fakta di atas, jelas bahwa upaya untuk menafikan kitab Al-Syajarah al-Mubârakah sebagai karya Imam Fakhruddin al-Razi memiliki banyak kelemahan. Sementara itu, bukti-bukti yang ada justru menunjukkan bahwa kitab ini memang berasal dari beliau.

Ketidakkonsistenan dalam metode kritik serta standar ganda yang digunakan hanya menunjukkan bahwa klaim yang menolak kitab ini tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, Al-Syajarah al-Mubârakah tetap harus diakui sebagai bagian dari warisan intelektual Imam Fakhruddin al-Razi.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *