“Membedah Klaim Kontroversial: Benarkah Khusyuk Shalat Bisa Disamakan dengan Hubungan Seksual? Jawaban untuk Kabib Ba’alwi!”
BERIKUT VIDEO CERAMAH KABIB KLAN BA’ALWI YANG MENJELASKAN KHUSYUK SHOLAT = SEPERTI HUBUNGAN INTIM HINGGA TAKUT SAMPAI KELUAR SPERMA dalam link youtube berikut:
*Membedah Kesesatan Pemikiran: Meyamakan Khusyuk Shalat dengan Kenikmatan Seksual dalam Perspektif Ulama Sunni ASWAJA*
*Penjelasan*
Pernyataan yang menyamakan kenikmatan spiritual saat khusyuk dalam shalat dengan kenikmatan seksual adalah hal yang serius dan menimbulkan banyak pertanyaan serta mencakup dalam ranah keislaman. Menurut ajaran Sunni ASWAJA (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), shalat adalah ibadah yang sangat sakral, di mana kekhusyukan adalah puncak dari pengalaman spiritual dan kedekatan kepada Allah SWT. Membandingkan kekhusyukan shalat dengan kenikmatan fisik duniawi seperti hubungan seksual bukan hanya keliru, tetapi juga dapat mempertimbangkan nilai ibadah shalat itu sendiri.
*Dalil dan Argumentasi*
1. *Khusyuk dalam Shalat sebagai Pengalaman Spiritual*
Dalam Islam, kekhusyukan (khusyuk) dalam shalat Merujuk pada keadaan hati yang tenang, tunduk, dan benar-benar fokus hanya kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sejujurnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka.” (QS. Al-Mu’minun : 1-2)
Ayat ini menegaskan bahwa khusyuk adalah unsur penting dalam shalat, yang membawa ketenangan hati dan kedekatan kepada Allah, bukan kenikmatan yang bersifat jasmani atau duniawi.
2. *Peringatan tentang Mengolok-olok Ibadah*
Mengolok-olok ibadah atau membandingkannya dengan hal-hal yang menaikkan martabatnya bisa dianggap sebagai tindakan yang menistakan agama. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR.Abu Dawud)
Ulama Sunni menafsirkan bahwa meniru atau memodifikasi ajaran agama dengan pemikiran yang menyimpang, termasuk menyamakan kenikmatan spiritual dengan yang duniawi, adalah sesuatu yang harus dihindari.
3. *Pendapat Ulama Sunni ASWAJA*
-
- *Imam Al-Ghazali* dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kekhusyukan adalah keadaan hati yang berserah kepada Allah dan tidak terganggu oleh pikiran-pikiran duniawi. Membandingkan atau menyamakan keadaan spiritual ini dengan hal-hal duniawi adalah tindakan yang merusak esensi ibadah.
- *Imam Nawawi* juga menekankan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa shalat adalah momen komunikasi langsung dengan Allah, sehingga perlu dijaga kehormatannya dari pemikiran atau perumpamaan yang tidak pantas.
*Kesimpulan*
Menyamakan kekhusyukan shalat dengan kenikmatan seksual bukan hanya tidak sesuai, tetapi juga dianggap sesat oleh para ulama Sunni ASWAJA. Hal ini karena kekhusyukan adalah murni pengalaman spiritual yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya, berbeda secara total dari kenikmatan fisik atau duniawi. Menghormati nilai-nilai ibadah adalah bagian dari menjaga kesucian agama dan tidak boleh diturunkankan dengan perumpamaan yang tidak pantas.
Semoga kita semua dapat memahami esensi shalat yang sebenarnya dan menjauhkan diri dari pemikiran yang berputar.